Waspadai Diabetes Melitus Gestational, Kasus Diabetes Dalam Kehamilan

 www.bindonhouse.com

www.bindonhouse.com

Bagi setiap pasangan, kehamilan merupakan suatu anugerah yang sangat dinantikan. Dengan segala daya dan upaya yang ada, wanita dalam kondisi berbadan dua harus ekstra hati-hati, baik dalam menjaga pola makanannya, mengatur pola olahraganya, menjaga kadar istirahat hingga wajib cek kesehatan secara periodik sehingga kesehatan ibu dan calon bayi tetap terjaga. Seiring dengan kemajuan teknologi, kini telah banyak diketahui hal medis yang patut diwaspadai terutama saat kehamilan. Salah satunya adalah diabetes dalam kehamilan atau yang dikenal dengan nama diabetes melitus gestational.

Diabetes jenis ini merupakan kondisi intoleransi karbohidrat yang dialami oleh wanita, yang kasusnya diketahui pertama kali ketika sedang dalam fase kehamilan. Diabetes mellitus gestational terjadi karena kelainan yang dipicu oleh kehamilan, yang diperkirakan karena terjadinya perubahan pada metabolisme glukosa. Ada pula teori lain yang mengiringi salah satu jenis diabetes tipe dua ini yang dikenal degan sebutan unmasked atau baru ditemukan saat hamil dan patut dicurigai pada wanita dengan beberapa ciri  gemuk, memiliki riwayat keluarga yang menderita diabetes, memiliki riwayat melahirkan bayi dengan berat fantastis di atas 4 kilogram, memiliki riwayat bayi lahir mati dan memiliki riwayat abotus atau keguguran berulang.

www.medicalgrapevineasia.com

www.medicalgrapevineasia.com

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk mengetahui gejala ini adalah pemeriksaan kadar gula darah atau skrinning glukosa darah serta ultrasonografi untuk mendeteksi adanya kelainan bawaan dan makrosomia. Makrosomia merupakan sebutan untuk bayi yang memiliki berat lebih dari 4 kilogram. Masalah yang ditemukan pada bayi yang menderita diabetes melitus gestational adalah kelainan bawaan, makrosomia, kadar gula rendah yang dikenal luas dengan sebutan hipoglikemia, kadar kalsium dalam darah rendah atau hipokalsemia, kadar bilirubin yang berlebih atau hiperbilirubinemia, sindrom gawat napas dan kematian janin. Sedangkan komplikasi yang didapat ibu berkaitan dengan hipertensi, pre-eklamsia dan peningkatan resiko operasi caesar.

Faktor maternal yang berkaitan dengan peningkatan angka kejadian makrosomia adalah obesitas, hiperglikemia, usia tua dan multiparitas atau jumlah kehamilan sudah lebih dari empat kali. Oleh karena itulah faktor usia dan jumlah kehamilan yang pernah dialami harus diperhitungkan dengan cermat yang tidak lain bertujuan untuk kesehatan ibu dan bayi serta meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan, disamping usaha agar berat badan tubuh tetap masuk dalam kisara normal. Makrosomia juga memiliki risiko kematian janin saat dilahirkan karena ketika proses melahirkan tiba, ada kemungkinan bahu janin berukuran besar ini nyangkut sehingga akan berdampak pada resiko peningkatan jumlah operasi caesar.

Untuk itulah pengawasan sendiri akan kadar gula darah sangat diperlukan pada wanita dengan diabetes melitus gestational. Tujuan utama dari proses monitoring ini tidak lain untuk mendeteksi kadar gula ibu yang akan berpengaruh pula pada janin yang dikandungnya. Selain melakukan monitoring kadar glukosa ibu, terapi nutrisi atau diet serta olahraga bersepeda dan olah tubuh bagian atas merupakan beberapa jenis terapi pada diabetes melitus gestational. Karena penangangan diabetes melitus gestational bergantung pada kondisi tubuh masing-masing pasien, jangan lupa pula untuk meminta rekomendasi pada tim medis yang mumpuni. Sehat selalu wanita Indonesia!

Jangan lewatkan pula artikel menarik lainnya seperti makanan kaya ptrotein bagi vegetarian, tips agar buah yang dikonsumsi tidak hilang nutrisinya serta gaya makanan yang dapat mengusir jerawat.

Komitmen kami adalah memberikan informasi dan tips seputar kesehatan untuk Anda sekalian. Silahkan sebarluaskan informasi yang ada dalam web ini dengan menyarankannya kepada orang di sekitar Anda untuk membacanya. Dengan menyebarkan informasi kesehatan yang ada di web ini berarti Anda sudah berbagi kebaikan dengan sesama.

Sumber: http://klikdokter.com/

Facebook Twitter Google Digg Whatsapp LinkedIn Reddit StumbleUpon Email

Add Your Comment