Mengenal Post Power Syndrome Pada Lansia

Ilustrasi Menua

Ilustrasi Menua pixabay

Mungkin istilah post power syndrome bukan hal asing lagi. Kondisi ini dapat terjadi pada orang yang mengalami masa pensiun. Post power syndrome merupakan kondisi yang terjadi akibat seseorang hidup dalam kebesaran dan bayang-bayang masa lalunya sehingga belum dapat menerima realita yang kini tengah terjadi. Bayang-bayang tersebut dapat berupa jabatan, kepemimpinan, karier, kecerdasan atau hal lainnya.

Secara garis besar kondisi post power syndrome gangguan fisik, emosional bahkan perilaku. Gangguan fisik yag bisa terjadi antara lain terlihat lebih tua, tampak kuyu hingga kondisi kesehatan yang terlihat kurang baik atau sakit-sakitan. Secara emosional orang yang mengalami post power syndrome menjadi lebih mudah tersinggung, menjadi pemurung, tidak suka dibantah hingga cenderung menarik diri dari pergaulan dan lingkungan sosialnya.

Sedangkan gangguan perilaku yang terjadi dapat adalah berubahnya perilaku seseorang menjadi pendiam atau sebaliknya, senang membicarakan kehebatan di masa lalu. Tidak hanya itu, post power syndrome juga dapat membuat perilaku seseorang menjadi sebang menyerang pendapat orang lain, tidak mau kalah hingga tidak segan menunjukkan kemarahan baik di rumah maupun di tempat umum.

Meski demikian, tidak semua lansia mengalami hal ini. kondisi post power syndrome rentan menyerang orang yang senang dihargai dan dihormati orang lain ataupun mereka yang gila jabatan. Orang yang kurang percaya diri sehingga membutuhkan pengakuan dari orang lain juga rentan terkena post power syndrome. Untuk mencegah terjadinya hal ini, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan seperti menyadari bahwa pekerjaan ataupun jabatan merupakan karunia Tuhan.

Selain itu perlu disadari bahwa kekuasaan dan jabatan bukanlah suatu hal yang permanen. Dengan demikian masa pensiun atau ketika jabatan tertinggi yang dimiliki telah digeser oleh orang lain tidak menimbulkan post power syndrome. Selain itu perlu ditanamkan bahwa jabatan bukanlah kekuasaan atau sekedar mempertahankan jabatan semata, melainkan sebuah tanggungjawab untuk membuat banyak perubahan demi kesejahteraan banyak orang.

Ilustrasi Menua

Ilustrasi Menua pixabay

Dengan demikian jabatan tidak akan membuat seseorang menjadi tinggi hati, namun sebaliknya posisi tersebut akan diisi dengan kaderisasi yang baik. Orang yang demikian memiliki resiko kecil terkena post power syndrome saat pensiun nanti. Jika ada orang terdekat yang menderita post power syndrome sangat disarankan untuk melakukan pendekatan dengan pihak ketiga. Selain itu usahakan untuk tidak melakukan perlawanan atau merespon kemarahan orang yang sedang mengalami post power syndrome. Disarankan pula agar penderita post power syndrome agar melakukan berbagai aktivitas positif.

Baca juga:

Penyebab Terjadinya Menopause Dini Pada Wanita

Menilik Gejala Menopause Pada Pria

Alasan Mengapa Kini Semakin Banyak Penyakit Menular dan Sulit Dilawan

Komitmen kami adalah memberikan informasi dan tips seputar kesehatan untuk Anda sekalian. Silahkan sebarluaskan informasi yang ada dalam web ini dengan menyarankannya kepada orang di sekitar Anda untuk membacanya. Dengan menyebarkan informasi kesehatan yang ada di web ini berarti Anda sudah berbagi kebaikan dengan sesama.

Sumber: www.tanyadok.com

Facebook Twitter Google Digg Whatsapp LinkedIn Reddit StumbleUpon Email

Add Your Comment