Mengenal Penyebab dan Pengobatan Dismofobia

Ilustrasi Dismofobia

Ilustrasi Dismofobia psicologia.iorigen.com

Dismofobia merupakan jenis penyakit psikis yang ditandai dengan perasaan memiliki bentuk tubuh atau wajah yang jelek. Umumnya penderita dismofobia akan melakukan perawatan pada bagian tubuh yang dikira jelek. Sayangnya setelah melakukan perawatan atau bahkan operasi plastik sekalipun, penderita dismofobia umumnya tidak merasa puas atau beralih merasa buruk pada bagian tubuh yang lain.

Perlu diketahui bahwasanya penderita dismofobia berpotensi memiliki kualitas hidup yang buruk, depresi, terisolasi dari dunia sosial hingga beresiko tinggi melukai diri sendiri hingga melakukan tindakan bunuh diri. Meski terkesan sepele namun efek yang ditimbulkan tergolong cukup mengerikan. Karena itulah penting untuk mengetahui penyebab terjadinya dismofobia sejak dini. Tidak hanya untuk memproteksi diri sendiri, tapi juga anggota keluarga hingga sahabat dekat.

Menariknya berdasarkan hasil penelitian, salah satu penyebab penyakit bernama lengkap body dysmorphic disorder atau BDD ini adalah olok-olok (bullying) ataupun penyiksaan di masa kecil ataupun saat remaja, baik secara fisik ataupun seksual. Selain itu ada beberapa faktor resiko lain penyebab dismofobia seperti genetik atau turunan dari keluarga, memiliki sifat pemalu, perfeksionis atau cemas yang berlebihan. Terkait hal ini, ketiga sifat tersebut ternyata tergolong sifat yang dapat diturunkan.

Tidak hanya itu, buruknya hubungan dengan teman bahkan olo-olok ketika berjerawat saat remaja, meski kini telah sembuh juga dapat menjadi faktor resiko terjadinya dismofobia. Gejala dismofobia mulai tampak saat remaja. Setiap harinya penderita penyakit psikis ini dapat mengecek penampilan hingga berkali-kali.

Jika mengalami gejala serupa, jangan malu untuk berkonsultasi pada pihak medis yang dipercaya. Terkait hal ini, penanganan penderita dismofobia dapat dilakukan dengan terapi perilaku atau dengan dengan pengobatan dengan obat selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) selama periode tertentu. Tentu penanganan ini harus dilakukan oleh pihak medis yang kompeten.

Menulis

Menulis pixabay

Terkait hal ini, ternyata aktivitas menulis bisa dilakukan untuk membantu menghilangkan pikiran negatif yang disebabkan oleh penyakit psikis ini. Meski terkesan sepele, menulis dapat membantu seseorang mengungkakpan emosi, rasa sedih hingga perasaan takut yang sedang dialami.

Selain itu menjaga pola hidup sehat, tidak mengisolasi dari kehidupan sosial, membaca buku motivasi hingga belajar melakukan teknik relaksasi dan manajemen stres dapat menjadi alternatif meminimalisir efek dismofobia. Jangan lupa untuk senantiasa bersyukur dan berbahagia!

Baca juga:

Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri

Mengenal Metode Operasi Penurunan Berat Badan

Ternyata Krim Mata Tidak Hanya untuk Orang Tua

Komitmen kami adalah memberikan informasi dan tips seputar kesehatan untuk Anda sekalian. Silahkan sebarluaskan informasi yang ada dalam web ini dengan menyarankannya kepada orang di sekitar Anda untuk membacanya. Dengan menyebarkan informasi kesehatan yang ada di web ini berarti Anda sudah berbagi kebaikan dengan sesama.

Sumber: www.tanyadok.com

Facebook Twitter Google Digg Whatsapp LinkedIn Reddit StumbleUpon Email

Add Your Comment